SAMBUTAN

Selamat datang di
http://460033.blogspot.com
SARANA INTERAKTIF BERBAGI! http://460033.blogspot.com sangat mengharap sumbangan berbagai artikel dari para Pembaca yang budiman. Kesempurnaan hanyalah milik-Nya makadariitu http://460033.blogspot.com sangat mengharap kritik dan saran dari Pembaca. Rachmat W. P.

Senin, 10 Januari 2011

ojo dumeh

Aja Dumeh = Jangan Sombong, dapat diartikan sebagai suatu peringatan agar manusia selalu ingat kepada sesamanya, saling cinta mencintai. Mengisyaratkan agar manusia tidak larut dengan apa ayang di miliki atau di jalaninya, sehingga cenderung menjalani keputusan hidup yang negatip seperti : Mentang mentang kaya, maka kita menjadi sombong dan merasa semua dapat di beli dengan uang, begitu pula sebaliknya dengan kondisi miskin, maka kita menjadi putus asa dan mengakibatkan kita mengumpat sana sini kepada yang kaya.
•  Aja Dumeh Kuwasa, Tumindake daksura lan daksia marang sapada-pada, ( janganlah mentang –mentang sedang berkuasa, segala tindak-tanduknya pongah dan congkak serta sewenang –wenang terhadap sesamanya).
•  Aja dumeh pinter, tumindake keblinger ( janganlah mentang –mentang diakui pintar lalu kebijaksanaanya menyimpang dari aturan yang seharusnya).
•  Aja dumeh kuat lan gagah, tumindake sarwa gegabah (jangan mentang –mentang kuat dan gagah lalu tindakanya serba gegabah )
•  Aja dumeh sugih, tumindake lali karo sing ringkih ( jangan mentang –mentang kaya lalu tingkah perbuatanya tidak mengingat kepada yang lemah ekonominya)
•  Aja dumeh menang, tumindake sewenang-wenang (jangan mentang-mentang dapat mengalahkan lawan lalu tindakanya sewenang –wenang kepada lawan)
Seperti apa yang dikatakan dalam lirik tembang Ojo Dumeh oleh Mus Mulyadi.

Jumat, 07 Januari 2011

Makna filosofis gendhing Cucur Bawuk

Makna filosofis gendhing Cucur Bawuk

Budaya jawa khususnya orang jawa mengenal tentang konsep Tiga Dharma Besar dalam siklus kehidupan manusia yaitu : PURWA, MADYA dan WASANA.
Purwa artinya awal permulaan, Madya artinya tengah dan Wasana mempunyai arti akhir.
Awal mula kehidupan manusia dimulai dari kelahiran, kemudian menapak menuju kehidupan madya (mulai semenjak dari muda sampai menjelang masa tua). Sedangkan wasana adalah saat senja seseorang menutup mata untuk meninggalkan duniawi.
Gambaran diatas tersebut terlukis dalam Gendhing Cucur Bawuk Sl.My sebagaimana gendhing pembuka sebelum Ki Dalang memainkan wayang.
Komposisi gendhing Cucur Bawuk diawali dengan Cucur bawuk – Pare Anom – Ladrang Srikaton – Ketawang Sukma Ilang – Srepeg – Sampak dan Ayak-Ayak
Nama Cucur Bawuk dapat diinterprestasikan maknanya secara harfiah berasal dari kata “kucur” atau menjadi kata predikat “mengucur” yang mempunyai arti dan makna menetesnya darah yang keluar akibat terjadinya sesuatu. Sedangkan “bawuk” adalah sebutan atau nama liang kewanitaan yang berfungsi sebagai organ seksual dan jalan keluarnya bayi. Apabila dua kata digabung “cucur bawuk” berarti mengucurnya darah dari liang kewanitaan.

Interprestasi lain dari nama cucur bawuk adalah kemaluan anak kecil yang masih polos, bentuknya seperti “kue cucur”, sehingga dapat diartikan sebagai kehidupan anak-anak yang masih polos, dan orisinil.
Kata cucur bawuk sebagai sebutan nama gendhing mempunyai makna tersirat lahirnya seorang bayi dari seorang ibu akibat buah cinta orang tua. Mengucur melambangkan perjuangan berat dengan taruhan nyawa. Makna tersebut dapat diinterpretasikan sebagai perjuangan yang harus dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan ataupun kesuksesan.
Dilanjutkan gendhing Pare Anom, yang dapat diartikan buah pare yang masih muda dan segar. Ini menggambarkan masa remaja yang penuh suka ria. Kemudian dilanjutkan ladrang Srikaton yang berirama lincah, dinamis dan agung. Menggambarkan sebagai puncak kehidupan manusia di dunia.
Memasuki masa paro ketiga atau yang terakhir adalah masa-masa seorang harus sudah endekatkan diri pada Sang Khalik, sebagaimana diisyaratkan dalam gendhing ketawang Sukma Ilang (sukma melayang) yang bernuansa penuh kesedihan.
Disaat detik-detik nyawa seseorang meninggalkan tubuhnya, digambarkan dengan gendhing yang berirama cepat dan menghentak yaitu srepeg dan sampak. Ini sebagai gambaran sakaratul maut yang dikomposisikan dengan irama yang begitu cepat dan kendang yang menghentak=hentak, laksana hentakan sang pencabut nyawa dalam membetot nyawa.
Tanpa disadari naluri orang yang mendengarkan gendhing ketawang Sukma Ilang itu akan terasa sedih, bahkan ada yang menangis takut tidak bisa menemukan jalan menuju pulang mulih mulanira kembali ke Sang Khalik.
Judul gendhing pada umumnya seperti halnya Cucur Bawuk, dalam karawitan jawa mengandung makna mendalam apabila ditinjau dari perspektif filsafat. Judul gendhing karawitan tradisi jawa selalu menggunakan kata “simbol-simbol” yang artinya memerlukan interprestasi makna untuk menangkap pesan-pesan yang disampaikan pencipta pada pendengar. Syair atau cakepan yang diciptakan biasanya dituangkan dalam bentuk bahasa simbol dengan pemaknaan yang sarat dan menggambarkan kesusasteraan mendalam dan indah.
Filosofi Syair Gendhing Karawitan Jawa
Syair atau cakepan gendhing Cucur Bawuk terdiri dari 4 bait atau “pada ” dengan menggunakan bahasa campuran antara Jawa Kuna dan Jawa Modern. Filosofi sebagai ajaran hidup yang dapat diambil adalah sebagai berikut:
Pada/bait 1:
Wening, (hening)
Dumling cenger jabang, (mendengar tangis bayi)
Wruh pepadhang miwah sepi, (melihat terang dan sepi)
Swasana plong procot mijil, (suasana lega keluar)
Guwa garba biyungipun. (dari rahim sang ibu)
Pemaknaan syair atau bait satu dapat diinterpretasikan sebagai berikut :
Wening atau hening memaknakan suasana yang penuh dengan permohonan doa ucapan terima kasih orang tua kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah diperkenankannya sang bayi memulai hidup di dunia. Hadirnya seseorang dalam keluarga menjadi harapan dan tumpuan masa depan keluarga dalam melaksanakan kehidupan sebagai rahmat Tuhan.
Dumling cenger jabang, maksudnya adalah kehadiran sang bayi di dunia ini dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Hal ini bermakna bahwa anak yang sempurna lahir batin diharapkan mampu memecahkan segala permasalahan yang akan dihadapi keluarga. Cenger atau tangis merupakan manifestasi aktifitas seseorang yang mencirikan kemampuan dan kesiapan menghadapi hidup.
Wruh pepadhang miwah sepi, adalah kemampuan seseorang dalam membedakan perbuatan baik dan buruk yang selalu dihadapi oleh manusia selama masih hidup di alam fana.
Swasana plong procot mijil, merupakan manifestasi rasa lega seorang ibu yang telah usai melahirkan. Kelegaan atas sebuah kemenangan melawan maut yang dapat membawa sang ibu maupun anak kepada kematian. Hal ini dapat diinterpretasikan pula sebagai seseorang yang lepas dari sebuah permasalahan berat dan telah mendapatkan solusi terbaik dan tuntas.
Guwa garba biyungipun, memaknakan liang kewanitaan ibu yang diinterpretasikan sebagaisebuah jalan yang harus ditempuh meskipun penuh dengan derita demi tercapainya cita-cita hidup yang lebih baik.
Pada/bait 2 :
Hayu rahayuwa, (semoga selamat)
Jabang biyang baraya gung, (bayi keluarga besar)
Karoban berkah Pangeran, (mendapat berkah Tuhan)
Slamet ing salami-lami. (selamat selamanya)
Pemaknaan syair atau bait dua dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
Hayu rahayuwa, adalah sebuah pemaknaan doa yang dipanjatkan oleh kedua orang tua sang bayi. Berkat kegigihan yang disandarkan pada kehendak Tuhan akan membuahkan hasil kebahagian keluarga dengan didapatkannya tambahan anggota keluarga. Kehadiran seseorang (bayi) akan menciptakan sejarah dan suasana baru di mana ia berada dalam lingkungannya.
Jabang biyang baraya gung, jabang biyang konotasinya adalah jabang bayi atau bayi, sedangkan baraya gungadalah keluarga besar. Makna dari kalimat tersebut adalah sang bayi tidak hanya sebagai anggota keluarga kecil (terdiri dari ayah, ibu, dan anak), tetapi juga merupakan anggota dari keluarga besar atau trah. Bertambahnya anggota keluarga dimaknai sebagai harapan meningkatnya taraf hidup, persaudaraan, kebahagiaan, pelestarian, dan pengembangan trah. Dengan bertambahnya anggotatrah, berarti semangat gotong royong akan semakin kuat dalam menghadapi perjalanan hidup.
Karoban berkah Pangeran, kata karoban mempunyai padanan kata kejugrukan atau keruntuhan (dalam bahasa Indonesia). Namun karoban di sini bukan bermakna sebagai keruntuhan benda yang banyak dan menyakitkan, tetapi gaya hiperbola yang bermakna mendapatkan sesuatu yang sangat banyak. Hal tersebut menjadi jelas bila dirangkaikan dengan kata selanjutnya yaitu berkah Pangeran yang artinya berkah dari Tuhan. Jadi maksud dari rangkaian kata tersebut adalah mendapatkan berkah Tuhan yang melimpah. Pemaknaan rangkaian kata tersebut dapat diinterpretasikan sebagai kecintaan Tuhan kepada umat-Nya yang telah memberikan seorang anak. Bagi orang Jawa anak merupakan anugerah “luar biasa” dan dianggap sebagai “bandha sing ora ana tandhinge.” Artinya nilai seseorang anak diibaratkan sebagai harta yang tidak ternilai harganya, atau dapat disimpukan bahwa nilai seorang anak tidak dapat disamakan dengan harta benda.
Slamet ing salami-lami, bermakna selamat untuk selama-lamanya. Makna kalimat tersebut adalah sang bayi diharapkan selamat sampai akhir hayat. Hal ini merupakan manifestasi sebuah harapan dan doa kepada seseorang supaya lepas dari segala bentuk mara bahaya dan “dunia kegelapan” yang akan mengganggu langkahnya menuju “kesempurnaan”. Kesempurnaan yang dimak-sud di sini adalah sebuah proses pencapaian kematangan fisik maupun psikis seseorang menuju terpenuhinya kebutuhan duniawi maupun surgawi.
Pada/bait 3 :
Glewo gewalagang, (cantik/cakep dan perkasa)
Sabawane nangis ngguyu, (tingkah laku menangis dan tertawa)
Mimik pipis lan kalegan, (minum, pipis, dan perasaan lega)
Yayah rena sambung rasa. (siang malam saling cinta)
Pemaknaan syair atau bait tiga dapat dinterpretasikan sebagai berikut :
Glewo gewalagang yang makna harfiahnya cantik/cakep dan perkasa dapat dimaknai sebagai cantik secara fisik maupun “cantik” dalam perbuatan yang mengutamakan kebajikan dan kebermanfaatan bagi orang lain, agama, maupun bangsa dan negara. Hal ini berkaitan dengan konsep orang Jawa “amemangun karyenak tyasing sasama”yang artinya membangun suasana yang tenteram bagi sesama manusia. Sedangkan kata gewalagangatau perkasa dapat diinter-pretasikan sebagai kuat secara lahir dan batin dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup.
Sabawane nangis ngguyu, dapat diinter-pretasikan sebagai dinamika hidup yang penuh dengan suka maupun duka. Suka dan duka harus dimaknai sebagai sumber pengalaman dan pengetahuan sebagai proses menuju kematangan emosional seseorang.
Mimik pipis lan kalegan. Minum (mimik) dapat dimaknai sebagai menimba ilmu pengetahuan dari orang yang lebih tua atau kompeten. Pipis dimaknai sebagai sumbangsih pemikiran dan perbuatan yang berguna bagi sesama. Sedangkan perasaan lega atau puas dimaknai sebagai rasa kepuasan emosional setelah mendapatkan maupun mengamalkan pengetahuan dan pemikiran.
Yayah rena sambung rasa dengan makna harfiah siang malam saling cinta, dapat diinterpretasikan sebagai rasa kebersamaan yang harus dibangun oleh seseorang dengan orang tua, sanak saudara, dan masyarakat yang harus dilakukan di setiap saat. Hal ini mengajarkan proses seseorang dalam berinteraksi dengan sesama untuk membentuk budaya.
Pada/bait 4 :
Twajuh nggulawentah, (tekun mengelola)
Tresna asih rina wengi, (siang malam saling cinta)
Titi tlaten tan angresah, (teliti, rajin dan tidak mengeluh)
Ginadhanganom utama, (semoga menjadi orang yang baik)
Pemaknaan syair atau bait empat dapat dinterpretasikan sebagai berikut:
Twajuh nggulawentah makna harfiahnya adalah tekun mengelola yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya. Kalimat tersebut dapat dimaknai sebagai keiklasan hati akan perbuatan yang didharmabaktikan kepada sesama. Dharma bakti mempunyai esensi tidak mengharapkan balas budi dalam bentuk apapun.
Tresna asih rina wengi, mempunyai makna harfiah siang malam saling cinta antara seorang ibu (orang tua) dengan anaknya. Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai manifestasi rasa saling memiliki atau rasa saling “handarbeni” yang tiada berkesudahan. Handarbeni memiliki makna merawat (memelihara), melindungi, dan bertanggung jawab pada sesama.
Titi tlaten tan angresah, mempunyai makna harfiah teliti, rajin dan tidak mengeluh yang dilakukan seorang ibu dalam mengasuh anaknya. Hal ini dapat dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pekerjaan dan anak buahnya. Pemaknaan ini masih terkait dengan konsep kepemimpinan orang Jawa “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”.
Ginadhang anom utama, mempunyai makna harfiah harapan yang ditujukan kepada anaknya untuk menjadi pemuda yang baik, sukses, dan terhormat. Kata baik, sukses, dan terhormat cenderung diinterpretasikan sebagai keberhasilan yang berorientasi pada watak atau karakter baik yang dimiliki oleh seseorang. Watak atau karakter individu yang baik diharapkan dapat diabdikan kepada kepentingan masyarakat, agama, serta bangsa dan negara
Bandingkan gendhing Cucur Bawuk sebelumnya yang ada disini, atau juga kesini.

Makna tembang jawa

Makna tembang jawa

Makna dan arti dari pada setiap syair dan lirik tembang jawa itu pada dasarnya mempunyai pengertian dan kandungan yang sangat mendalam. Kalau kita kaji secara mendalam mengandung ajaran ataupun falsafah bagi kehidupan kita semua. Coba kita simak tembang dandanggula ini :
  • sakehing kan dumadi makardi
  • lir Hyang Widhi kan tansah makarya
  • nguribi jagad tan leren
  • surya, candra lan bayu, bhumi, tirta kalawan agni
  • peparing panguripan
  • mring pamrih wus mungkur
  • anane nuhoni dharma
  • iku dadya sastra cetha tanpa tulis
  • nulat lakuning alam

Artinya kurang lebih :
  • semua yang ada ini berkerja
  • bahkan Tuhan pun bekerja
  • menghidupi dunia ini tanpa henti
  • matahari, bulan, angin, bumi, air dan api
  • semua bekerja demi kelangsungan hidup tanpa pamrih
  • dasarnya hanyalah merasa wajib
  • alam adalah “ilmu nyata”
  • kita wajib meniru dharmanya

Kawruh Tembang Jawa

Kawruh Tembang Jawa

Tembang jawa mocopat wonten 11 (sewelas) cacahe, kang gambarake jejering manungsa awit wonten garbane ibu ngantos kapundut ing ngarsane kang Maha Kuwaos, nggih meniko :
Tembang jawa mocopat dapat digolongkankan menjadi 11 tembang, yang menggambarkan jalannya kehidupan manusia sejak didalam kandungan ibunda sampai meninggalnya untuk menghadap Yang Maha Kuasa, yaitu :
1. Maskumambang, gambarake jabang bayi sing isih ana kandhutane ibu, sing durung kawruhan lanang apa wadon. Mas tegese durung weruh lanang dan wadon. Kumambang tegese uripe ngambang nyang kandhutane ibune.
Melambangkan embrio yang masih dalam kandungan ibunya, yang belum diketahui laki atau perempuan. Mas, artinya belum diketahui laki atau perempuan, sedangkan Kumambang, artinya hidupnya masih dialam kandungan ibundanya.
2. Mijil, ateges wis lahir jabang bayine wujud lanang apa wadon
Artinya sudah lahir didunia jenis kelamin laki atau perempuan.
3. Kinanthi, saha tembung kanthi utawa tuntun, kang ateges dituntun supaya bisa mlaku ngambah panguripan alam ndonya.
Berasal dari kata kanthi atau menuntun, yang artinya dituntun supaya dapat berjalan didunia ini.
4. Sinom, tegese kanoman, minangka kalodhangan sing paling penting kanggone remaja supaya bisa ngansu kawruh sak akeh-akehe.
Artinya pemuda/remaja, disini yang terpenting bagi remaja agar bisa menuntut ilmu yang setinggi-tingginya.
5. Asmaradana, tegese rasa tresna, tresna marang liyan (pria lan wanita) kang kabeh mau wis dadi kodrat Illahi.
Artinya mempunyai rasa cinta kasih kepada sesamanya baik itu pria maupun wanita, karena semua itu sudah merupakan kehendak/kodrat Yang Maha Kuasa.
6. Gambuh, saka tembung jumbuh/sarujuk kang ateges yen wis jumbuh/sarujuk njur digathukake antarane pria lan wanita sing pada nduweni rasa tresna mau, ing pangangkah supaya bisaa urip bebrayan.
Berasal dari kata nyambung/sesuai yang artinya kalau sudah pas selanjutnya dijodohkan antara pria dan wanita yang sudah saling mencintai, dengan harapan dapat menjalin kehidupan yang langgeng.
7. Dandanggula, nggambarake wong kang lagi seneng-senenge, apa kang digayuh bisa kasembadan. Kelakon nduwe sisihan/keluarga, duwe omah, urip cukup kanggo sakkeluargane. Mula kuwi wong kang lagi bungah/bombong atine bisa diarani lagu dandanggula.
Menggambarkan seseorang yang berbahagia, apa yang dicita-citakan dapat terlaksana. Terlaksana mempunyai pasangan, mempunyai rumah, kehidupan yang kecukupan untuk keluarganya. Makanya seseorang yang sedang menemukan kebahagiaan dapat dikarakankan ibaratn lagunya dandanggula.
8. Durma, saka tembung darma/weweh. Wong yen wis rumongso kacukupan uripe banjur tuwuh rasa welas asih marang kadang mitra liyane kang lagi nandhang kacintrakan, mula banjur tuwuh rasa kepingin darma/weweh marang sapadha-padha. Kabeh mau disekunyung uga saka piwulange agama lan watak sosiale manungsa.
Berasal dari kata pemberi. Seseorang yang merasa kecukupan hidupnya kemudian tergugah rasa kasihan kepada sanak saudara yang sedang menderita, makanya tergugah ingin membantu dan memberi pertolongan kepada siapa saja. Semua itu diberikan pertolongan sesuai ajaran agama dan rasa sosialnya kepada sesama.
9. Pangkur, saka tembung mungkur kang ateges, nyingkiri hawa nepsu angkara murka, kang dipikir tansah kepingin weweh sapadha-padha.
Berasal dari kata meninggalkan yang artinya menghindari hawa nafsu yang angkara murka, semua yang dipikirkan senantiasa berkeinginan membantu kepada sesamanya.
10. Megatruh, saka tembung megat roh utawa pegat rohe/nyawane, awit wis titi wncine katimbalan marak sowan mring Sing Maha Kuasa.
Berasal dari kata lepas rohnya atau mati, karena sudah saatnya dipanggil menghadap kepada Yang Maha Kuasa.
11. Pucung, yen wis dadi layon/mayit banjur dibungkus mori putih utawa dipocong sak durunge dikubur.
Kalau sudah menjadi bangkai kemudian dibungkus dengan kain putih atau dipocong sebelum dikebumikan.

Panatacara Upacara Kirab Temanten (3)

Panatacara Upacara Kirab Temanten (3)

Sesampunipun dipun dindakaken kirab kanarendran, taksih wonten kirab kasatriyan nggih meniko temanten kekalih gantos busana lajeng sumarak wonten ing sasana palenggahan.
Panyandra sang suba manggala mapag kirabing temanten
Padhang hanarawang sumilak ppiyak katon hangilak-ilak marga agung kang tumuju dhumateng sasana rinengga. Ana sesotya coplok saking ngembanan, lumampah mabukuh yayah prayitneng kewuh, ngrememeng kaya lintang Bimasakti hanyuwak tutuking naga, lah punika ta warnanira kang ndaweg hanawung kridha, angayahi gati kinarya Suba Manggala ya Manggala Suba. Mangkana wus kekalung puspita rinonce, mila sigra madeg esthining driya, lenging cipta arsa mboyong sang pindha narendra tedhak mring panti busana.
Sinten ta asmane priya jatmika kang kepareng nyangkul jejibahan agung menika, sayekti tan sanes panjenenganipun adhimas ……………………………
Dhasar pideksa sarwa sambada, maksih mudha tumaruna wimbuh hambeg susila hanoraga, tandang tanduke prasaja tur ngresepake, grapyak semanak marang sapa wae, prasaja busanane, prasaja uripe, luhur bebudene. Katitik saking solah bawa, ebahing sarira liringing netra, ukeling asta, tumapaking pada ngidak wirama, kapracihna bilih Sang Suba Manggala satuhu lebda ing budya.
Tindakira kadherekaken satriya sakembaran, kembar dedege, kembar baguse, kembar busanane lamun cinandra pindha jambe sinigar, ingguh punika ta warnanira Talang Pati, Manggalayuda ya Pratiwa Manggalasuba.
Sumambunging wuri, barisane para kenya Srikandhining praja Nuswantara. Busanane sarwa edi, solah bawane merak ati, eseme ndudut ati, kedheping netra ngrujit ati. Lumampah jejer kalih-kalih salajur sisih, gandhes luwes wiragane, susila patrape, hangujiwat eseme, pindha ngawe-awe para kang ana sandhinge.
Laju lampahe Risang Manggala Suba, samangke sampun prapta unggyaning kang tinuju, mila lajeng suka sasmita mring sekaring pawiwahan, gya jengkar saking palenggahan manjing pepengkeran.
Panyandra Kirab Kasatriyan, saged dipundut wonten :

Panatacara Kirab II Kasatriyan

Panatacara Kirab II Kasatriyan

Para rawuh saha para lenggah wonten ganda sumerbak arum katiyubing samirana manda, sung sasmita bilih putra temanten anggenipun ngrasuk busana kasatriyan sampun pari purna keparenga sedya humarak sowan malih wonten ngarsa panjenengan sadaya, kaladuking atur winastan kirab kasatriyan, hambok bilih sampun samekta ing gati sawega ing dhiri, kasumanggakaken dhumateng para-para ingkang paniji, kiraping putra temanten binarung ungeling ketawang Subakastawa, sumngga nun nuwun.
Iringan gending subakastawa saged dipundut : wonten mriki

Panatacara Upacara Kirab Temanten (2)

Panatacara Upacara Kirab Temanten (2)

Kangge sutresnaning para sanak kadang ingkang remen tuladha jawi utawi panatacara kangge upacara kirab temanten, meniko saged dipun pundut minangka kangge ageman bokmenawi sakwanci-wanci dipun kersakaken.
TULADHA RUMPAKA
(PANYANDRA TEMANTEN KIRAB I)
Wus dumugi unggyan ingkang timuju. Ki Suba Manggala gya asung dhumateng putra temanten sarimbit mulya jengkar saking sasana rinengga, jengkaring putra temanten pindhane Sri Narendra lagya cengkrama kalihan ingkang garwa ( lajeng mungel Ketawang Langengita Srinarendra laras pelog pathet barang )
Panjenenganipun para rawuh saha para lenggah, padatan kirabing putra temanten punika dipun rumpaka, wondene rumpaka punika wonten kalih, (1) rumpaka panyandra, (2) rumpaka wedharan, keparenga kula ing mriki ngaturaken rumpaka wedharan, binarung swaraning gangsa kang hambabar ketawang Langengita Srinarendra katingal putra temanten jengkar saking sasana rinengga keparenging sedya marak sowan wonten ngarsanipun para rawuh manjing ing panti busana arsa ngrucat busananing kanarendran badhe hangrasuk busana kasatriyan, sinten ta pinangka pangarsaning lampah inggih winastan suba manggala ingkang ateges suba punika sae, manggala punika dados pangarsa ingkang sae, mila mboten mokal lamun ta kadang ………………………………………………. Piniji pinangka pangarsaning lampah ingkang mengku werdi asung pralampita dhateng putra temanten sekalian engeta dhumateng Gusti ingkang akarya loka, mila jejering manggala suba naming setunggal, sinamunging lampah kisuba manggala, talang pati inggih satriya kembar pimilih taruna kang bagus warnane kembar busanane mengku prlampita dhumateng putra temanten tansaha kembar pakartine, kembar cipta, rasa lan karsane, menggah werdinipun satriya prlampita mugi sri atmaja temanten sageta hanglenggahi jejering satriya tama ingkang winengku tri prakawis :
1. ora golek seneng nanging kudu bisa gawe senenging liyan.
2. ora golek marem nanging kudu bisa gawe mareming liyan.
3. ora golek jeneng nanging kudu bisa njunjung asmaning liyan, inggih tiyang ingkang sampun saget nindakaken tri prakawis punika sanget pikantuk sesebatan satriya tama ingkang abudi luhur, punika pangajabing putra temanten.
Sinambunging wuri tindakira satriya kembar lah punika ta warnanira ingkang winastan patah sakembaran ingkang dumadi saking Kenya alit-alit ingkang ayu-ayu warnane edipeni busanane, asung prlampita dhumateng putra temanten pinangka :
P anutan
A mrih temanten sekalian
T ansah bisoa
A sih, asah, asuh ingkang sarta
H ayu, hayom, hangayemi.
Ingkang lumaksana sawingkingipun patah skembaran lan punika ta pinangka punjering cinarita inggih sekaring pawiwahan, tindake putra temanten sekalian ingkang kinanthi panjenenganipun Ibu ……………………………….. saha Ibu …………………………………. Anggenya lumaksana tansah kekanthen asta bebasan renggang gula kumepyur pulut datan benggang Sarema, sapecak mangu satindak kendel ing sedya among meminta nugrahaning Gusti ingkang sarta nyuwun dhumateng para rawuh mugi anggenya netebi darmaning gesang ngancik ing alam madya ingkang linantaran hanambut sih sutresna susila hakrami tansah pinaringan rahayu nir hing sambe kala, ingkang lumaksana salajur sisih jajar kalih sawingkingipun putra temanten nuninggih pethanipun putrid dhomas, menawi wonten hing Ngayogyakarta winastan pager hayu, menawi wonten Surakarta winastan Dhomas, dho kalih emas punika kawan atus, jangkep wolung atus mengku prlampita dhumateng putra temanten bisoa hanetebi hasta karya hasta brata karyaning bebrayan agung, wekdal punika putrid ingkang pindha dhomas naming nemen ingkang nderekaken jengkaring putra temanten ingkang ateges nemtokaken jumbuh ing raos sejati kang tumanduk dhumateng putra temnaten hingkang ginebeng nem prekawis inggih punika :
1. wahyaning raos hasmara nadha inggih sengseming pangucap
2. wahyaning raos hasmara mala inggih sengseming manah
3. wahyaning raos hasmara tura inggih sengseming sih
4. wahyaning raos hasmara gama inggih sengseming saresmi
5. wahyaning raos hasmara turida inggih sengseming kaprihatosan
6. wahyaning raos hasmara tantra inggih sengseming turun
Sawingkingipun putrid kang apindha dhomas, para kadang wredha ingkang sami sarimbit kalihan garwa esthining manah among jurung puji hastuti puja hastawa mugi putra temanten anggenipun mangun bebrayan enggal tansah pinarengan karahajan ing jana loka prapteng loka baka.
Ingkang lumaksana sawingkingipun sri penganten sekalian ingkang rama saha ibu pinangka jejering pethiting lampah ingkag ing ngarsa asung tuladha ing madya mangun karsa ing wuri handayani rumaos bombing birawaning manah ingkag rama saha ibu ngawuningani putra temanten sekalian ingkang ginarubyug para kadang wandawa saha sineksen sanggyaning para rawuh, mugi anggenya netebi wajibing gesang lantaran nambut sih sutresna susilaning akrami tansa manggiha raharja mulya. Wus dhungkap unggyan ingkang tinuju sang suba manggala gya sung sasmita dhateng putra temanten mulya manjing ing sasana busana ngrucat busana kanarendran hangrasuk busana kasatriyan.
Para rawuh saha para lenggah makaten menggah anggen kul;a ngaturaken rumpaka wedharan kirabing putra temanten, pangalembana miwah panyaruwe kasumanggakaken dhumateng para rawuh saha para lenggah nuwun.
Saged dipun unduh wonten file pdf : panyandra-kirab-i1