SAMBUTAN

Selamat datang di
http://460033.blogspot.com
SARANA INTERAKTIF BERBAGI! http://460033.blogspot.com sangat mengharap sumbangan berbagai artikel dari para Pembaca yang budiman. Kesempurnaan hanyalah milik-Nya makadariitu http://460033.blogspot.com sangat mengharap kritik dan saran dari Pembaca. Rachmat W. P.

Selasa, 24 Maret 2009

Merah Johansyah

Merah Johansyah

MERAH JOHANSYAH (1910-1942) ISI RIWAYAT SINGKAT Merah JohansyahDilahirkan pada 8 Agustus 1910 di Tanjung, Kabupaten Tabalong sekarang, dari ayahnya seorang pamong praja, Merah Nadalsyah, yang berasal dari daerah Pagarruyung Sumatera Barat.

Keluarga tersebut yang pemerintah Hindia Belanda diasingkan ke kota Bengkulu, akhirnya merantau ke Kalimantan Selatan. Dikota Tanjung lahirlah Merah Johansyah sebagai anak pertama dari keluarga pegawai negeri. Setelah tamat HIS ia melanjutkan ke OSVIA di Makasar, lalu mendirikan organisasi “Pemuda Osvia Kalimantan” bersama M. Yusran, M. Jahri dll pada tahun 1925 - 1926. Di tahun 1926 itu ia mengikat tali pernikahan dengan gadis Gusti Norsehan, putrinya Gt. Mohd. Said, seorang District Hoofd (Kiai Kepala) yang terkemuka. Dua tahun kemudian ia melanjutkan kerja ayahnya memimpin majalah mingguan “Bond Inlandse Ambtenaren” (BIA) diKandangan, disamping kegiatannya sebagai dinamisator pergerakan kebangsaan di Hulu Sungai.

Sesudah lahirnya ” Sumpah Pemuda ” 28 Oktober 1928, semangat juang pemuda menggelora. Beberapa partai/organisasi bertumbuh di Kalimantan, antaranya “Hizbul Wathan”, ” Persatuan Pemuda Marabahan “, “Taman Siswa”, “Indonesia Muda” , “Partai Nasional Indonesia ” (PNI) dan lain-lain. Pada tahun 1930 itulah ia mempersiapkan berdirinya partai “Persatuan Bangsa Indonesia” (PBI) bersama Andin Burhan, Obetnego Titiahy, M. Masri dkk. Karirnya makin memuncak ketika ia diangkat menjadi Komisaris PBI se Kalimantan, pun juga setelah lahirnya “Parindra”, dimana istrinya senantiasa mendampingi penuh dengan dorongan yang tulus. Karena aktivitasnya yang luar biasa dalam berpartai, sehingga sering tugas kewajibannya sebagai pegawai negeri terlalaikan. Hal itu menyebabkan ia ditangkap Belanda, dituduh sebagai oknum yang membahayakan. Ia diasingkan ke Surabaya (1937). Kembali ke Kalsel ia menerbitkan harian “Canang”. Ketika pendudukan Jepang, ia sakit-sakitan. Ia meninggal 8 April 1942 dan dimakamkan di Kandangan.

http://www.tabalong.go.id/kumpulan-cerita-rakyat/merah-johansyah/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar Anda, sumbangsih Blog saya...