SAMBUTAN

Selamat datang di
http://460033.blogspot.com
SARANA INTERAKTIF BERBAGI! http://460033.blogspot.com sangat mengharap sumbangan berbagai artikel dari para Pembaca yang budiman. Kesempurnaan hanyalah milik-Nya makadariitu http://460033.blogspot.com sangat mengharap kritik dan saran dari Pembaca. Rachmat W. P.

Senin, 10 Januari 2011

bakar batu

Bakar Batu PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Lase, Ferdinando   
Rabu, 06 Mei 2009 00:02
Mungkin Anda bertanya-tanya tentang judul dari artikel ini. "Apa sebenarnya bakar batu itu?" "Mengapa batu harus dibakar?". Bakar batu merupakan sebuah kegiatan masak-memasak. Namun disinilah letak keistimewaannya. Barangkali Anda tidak pernah membayangkannya sebelumnya. Media yang dipergunakan untuk memasak adalah BATU. Yah... batu-batu yang dibakar hingga panas memijar.
Masyarakat pegunungan Papua dan beberapa daerah pesisir menggunakan metode bakar batu untuk mengolah makanan mereka. Masyarakat Paniai menyebutnya dengan 'gapii' atau 'mogo gapii', sementara masyarakat Wamena menyebutnya 'kit oba isago'. Sementara masyarakat Biak menyebutnya dengan 'barapen'. Kata 'barapen' sepertinya sudah menjadi kata yang umum di Papua (mungkin karena mudah diingat dan diucapkan).
Umumnya kegiatan bakar batu ini dilakukan untuk menyiapkan hidangan dalam sebuah upacara besar. Upacara-upacara ini bisa dalam bentuk upacara pengucapan syukur, perdamaian (untuk mengakhiri perang antar suku), dan upacara-upacara adat lainnya. Hal yang menarik dari kegiatan bakar batu adalah melibatkan banyak orang. Disinilah akan terlihat betapa tingginya solidaritas masyarakat Papua. Proses persiapan hingga matangnya makanan pun terbilang cukup lama, sehingga umumnya pada saat menunggu proses matangnya makanan biasanya dipakai oleh kaum muda untuk menari-nari (tergantung upacara yang sedang berlangsung).
Mempersiapkan umbi-umbian
Proses persiapannya diawali dengan pencarian kayu bakar dan batu yang akan dipergunakan sebagai bahan bakar. Batu-batu kali yang digunakan ukurannya pun berfariasi, mulai dari yang berukuran 1 - 5 kepalan tangan pria dewasa. Batu dan kayu bakar disusun dengan urutan sebagai berikut, pada bagian paling bawah ditata dengan batuan-batuan yang ukurannya lebih besar, di atasnya ditutupi dengan kayu bakar, kemudian dengan batuan yang ukurannya lebih kecil, dan seterusnya hingga bagian teratas ditutupi dengan kayu. Kemudian tumpukan tersebut dibakar hingga seluruh kayu habis terbakar dan batuan menjadi panas. Semua ini umumnya dikerjakan oleh kaum pria.Sementara kaum pria mempersiapkan mempersiapkan kayu dan batu, kaum wanita menyiapkan bahan makanannya. Babi biasanya dibelah mulai dari bagian bawah leher hingga selangkang kaki belakang. Isi perut dan bagian lainnya yang tidak dikonsumsi dikeluarkan, sementara bagian lainnya dibersihkan. Demikian pula dengan sayur-mayur dan umbi-umbian. Dan kaum pria lainnya mempersiapkan sebuah lubang di tanah dengan diameter kurang lebih 1m (tergantung dari banyaknya bahan makanan yang akan di masak, dan kedalaman 50-80cm. 
Setelah batu-batuan  itu siap, maka dengan menggunakan penjepit yang terbuat dari kayu mereka mulai mamasukkan sebagian batu-batuan tersebut ke dalam dasar lubang. setelah itu ditutupi dengan daun pisang. Lalu bahan makanan seperti daging ditempatkan di atasnya. Daging pun ditutupi dengan menggunakan daun pisang (daun yang lebar) lalu batuan panas lainnya diletakkan di atasnya, kemudian daun pisang lagi. Bahan makanan berikutnya yang dimasukkan adalah umbi-imbian, lalu daun pisang , batu, daun pisang dan sayur-mayur, daun pisang dan diakhiri dengan berbagai macam dedauanan bahkan rumput. Lapisan akhir ini dipergunakan untuk mencegah keluarnya uap panas dari dalam lubang.
Proses matangnya masakan tersebut membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam. Sementara menunggu masaknya makan-makan tersebut, biasanya kaum muda bersenda gurau sambil meneriakkan pekik-pekik kebahagiaan.  Dalam upacara adat yang melibatkan banyak masyarakat, liang-liang tempat memasukkan makanan ini dibuat cukup banyak. Hal menarik lainnya adalah mereka akan duduk dalam kelompok-kelompok kecil dan sambil mempersiapkan masakannya. Jika sudah matang makanan-makanan itu akan dibagikan kepada semua orang yang ada dilokasi pesta, tanpa terkecuali. Semua mendapatkan porsi yang sama baik tua maupun muda hingga anak-anak.
Dan hasil masakannya? Bagi sebagian orang yang tidak terbiasa mungkin akan merasa agak risih karena makanan itu diolah di dalam lubang dalam tanah. Namun... saya jamin, sekali mencoba.... Anda akan ketagihan. Kok bisa??? Yah... karena itulah pesona Papua.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar Anda, sumbangsih Blog saya...