SAMBUTAN

Selamat datang di
http://460033.blogspot.com
SARANA INTERAKTIF BERBAGI! http://460033.blogspot.com sangat mengharap sumbangan berbagai artikel dari para Pembaca yang budiman. Kesempurnaan hanyalah milik-Nya makadariitu http://460033.blogspot.com sangat mengharap kritik dan saran dari Pembaca. Rachmat W. P.

Jumat, 21 Januari 2011

Upacara bekakak Saparan di Gunung Gamping

Upacara bekakak Saparan di Gunung Gamping Feb 19, '09 10:01 AM
by maztrie™ for everyone

Upacara bekakak disebut juga Saparan. Disebut saparan sebab pelaksanaan upacara tadi harus jatuh atau berkaitan dengan bulan sapar. Upacara ini diadakan atas perintah P. Mangkubumi. Mengenai kata saparan berasal dari kata sapar dan berakhiran an. Kata sapar identik dengan ucapan Arab Syafar yang berarti bulan Arab yang kedua. Jadi Saparan ialah upacara selamatan yang diadakan disetiap bulan Sapar.
Saparan Gamping disebut juga Saparan Bekakak. Bekakak berarti korban penyembelihan hewan atau manusia. Bekakak pada saparan ini hanya tiruan manusia saja, berujud boneka pengantin dengan posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung ketan.
Pelaksanaan upacara� saparan gamping tersebut diperinci dalam beberapa tahap yaitu:
- tahap midodareni bekakak
- tahap kirab
- tahap �Nyembelih� pengantin bekakak
- tahap sugengan Ageng.
Penyelenggaraan upacara saparan Gamping bertujuan untuk menghormati arwah (roh halus) Kiai dan Nyai Wirosuto sekeluarga. Kiai Wirosuto adalah abdi dalem penangsong (hamba yang memayungi) Sri Sultan Hamengku Buwana I pembawa payung kebesaran setiap Sri Sultan Hamengku Buwana I berada dan tidak ikut pindah waktu dari keraton (pesanggrahan) Ambarketawang ke keraton yang baru. Bersama keluarganya ia tetap bertempat tinggal di Gamping. Dan dianggap sebagai cikal bakal penduduk Gamping.
Waktu penyelenggaraan upacara Saparan Gamping telah ditetapkan, ialah setiap hari Jumat dalam bulan sapar antara tanggal 10 � 20 pada pukul 14.00 (kirab temanten bekakak). Penyembelihan bekakak dilakukan pada pukul 16.00.
Tempat penyelenggaraan upacara disesuaikan dengan pelaksanaan upacara. Persiapan penyelenggaraan upacara dibagi dalam dua macam yaitu saparan bekakak dan sugengan ageng. Persiapan untuk saparan bekakak terutama pembuatan bekakak dari tepung ketan dan membuat juruh, yang memakan waktu �8 jam. Pada saat pembuatan tepung diiringi gejong lesung atau kothekan yang memiliki bermacam-macam irama antara lain, kebogiro, thong-thongsot, dhengthek, wayangan, kutut manggung dan lain-lain.
Apabila penumbukan beras telah selesai, kemudian dilakukan pembuatan bekakak, gendruwo, kembang mayang, dan sajen-sajen, di satu tempat yaitu di rumah Bapak Roesman (panitia). Bentuk bekakak laki-laki dan perempuan dengan bentuk pengantin pria dan wanita pada umumnya dua pasang pengantin bekakak dengan sepasang bergaya Solo, dan sepasang bergaya Yogyakarta. Adapun pengantin laki-laki yang bergaya Solo dihias dengan ikat kepala ahestar berhiaskan bulu-bulu, leher berkalung selendang merah, dan kalung sungsun berkain bangun tulak, sabuk biru, memakai slepe. Mengenakan keris beruntaikan bunga melati, dan kelat bau. Sedangkan yang wanita memakai kemben berwarna biru, berkalung selendang merah dan kalung sungsun. Wajah dipaes, gelung diberi bunga-bunga dan mentul, di bahu diberi kelat bahu dan memakai subang.
Adapun pengantin laki-laki yang bergaya Yogyakarta, dihias dengan penutup kepala kuluk berwarna merah, berkalung selendang (sluier) biru dan kalung sungsun, sabuk biru dengan slepe, kain lereng, berkelat bahu dan bersumping, kemben hijau, kalung selendang biru (bangu tulak). Kekhususan yang tidak dapat dilanggar sampai saat ini, yaitu pelaku yang menyiapkan bahan mentahnya tetap para wanita, sedang yang mengerjakan pembuatan bekakak adalah para pria.
Sesaji upacara bekakak dibagi menjadi 3 kelompok. Dua kelompok untuk dua jali yang masing-masing diletakkan bersama-sama dengan pengantin bekakak. Satu kelompok lagi diletakkan di dalam jodhang sebagai rangkaian pelengkap sesaji upacara. Macam-macam sesajen yang diletakkan bersama-sama pengantin bekakak antara lain nasi gurih (wuduk) ditempatkan dalam pengaron kecil: nasi liwet ditempatkan dalam kendhil kecil beserta rangkaiannya daun dhadhap, daun turi, daun kara yang direbus, telur mentah dan sambal gepeng: tumpeng urubing dhamar, kelak kencana, pecel pitik, jangan menir, urip-uripan lele, rindang antep, ayam panggang, ayam lembaran, wedang kopi pahit, wedang kopi manis, jenewer, rokok/cerutu, rujak degan, rujak dheplok, arang-arang kemanis, padi, tebu, pedupaan, candu (impling), nangka sabrang, gecok mentah, ulam mripat, ulam jerohan, gereh mentah.
Sesaji itu ditempatkan dalam sudhi, gelas, kemudian ditaruh di atas jodhang antara lain sekul wajar (nasi ambeng) dengan lauk pauk: sambel goreng waluh, tumis buncis, rempeyek, tempe garing, bergedel, entho-entho, dan sebagainya, sekul galang lutut, sekul galang biasa, tempe rombyong yang ditaruh dalam cething bambu, tumpeng megana, sanggan (pisang raja setangkep), sirih sepelengkap, jenang-jenangan, rasulan (nasi gurih), ingkung ayam, kolak, apem, randha kemul, roti kaleng, jadah bakar, emping, klepon (golong enten-enten), tukon pasar, sekar konyoh, kemenyan, jlupak baru, ayam hidup, kelapa, sajen-sajen tadi ditempatkan dalam sudhi lalu semuanya diletakkan dalam lima ancak, dua ancak diikutsertakan dalam jali dibagikan kepada mereka yang membuat kembang mayang, bekakak dan yang menjadikan tepung (ngglepung) sementara itu disiapkan pula burung merpati dalam sangkar.
Midodareni Bekakak: Meskipun bekakak ini, berujud pengantin tiruan, tetapi menurut adat perlu juga memakai upacara midodareni. Kata midodareni bersal dari bahasa Jawa widodari yang berarti bidadari. Di sini terkandung makna bahwa pada malam midodareni para bidadari turun dari surga untuk memberi restu pada pengantin bekakak.
Tahap upacara ini berlangsung pada malam hari (kamis malam) dimulai � jam 20.00. dua buah jali berisi pengantin bekakak dan sebuah jodhang berisi sesaji disertai sepasang suami istri gendruwo dan wewe, semua diberangkatkan ke balai desa Ambarketawang dengan arak-arakan. Adapun urutan barisan arakan dari tempat persiapan ke balai desa Ambarketawang sebagai berikut :
- barisan pembawa umbul-umbul
- barisan peleton pengawal dari Gamping tengah
- joli pengantin dan jodhang
- reyog dari Gamping kidul
- pengiring yang lain
Kemudian semua jali dan lain-lain diserahkan kepada Bapak kepala Desa Ambarketawang. Pada malam midodareni itu, diadakan malam tirakatan seperti hanya pengantin benar-benar, bertempat di pendhopo ataupun diadakan pertunjukan hiburan wayang kulit, uyon-uyon, reyog. Di rumah Ki Juru Permono diadakan pula tahlilan yang dilaksanakan oleh bapak-bapak dari kemusuk kemudian dilanjutkan dengan malam tirakatan yang diikuti oleh penduduk sekitar. Di pesanggrahan Ambarketawang juga diadakan tirakatan.
Kirab Pengantin Bekakak: Tahap �kirab� pengantin bekakak ini merupakan pawai atau arak-arakan yang membawa jali pengantin bekakak ke tempat penyembelihan. Bersama dengan ini diarak pula rangkaian sesaji sugengan Ageng yang dibawa dari Patran ke pesanggrahan. Juga diarak ke balai desa terlebih dahulu.
Adapun urut-urutan arakan/ pawai upacara tradisional saparan bekakak sebagai berikut :
- reyog dan jathilan dari Patran
- sesaji sugengan Ageng
- barisan prajurit dari Gamping tengah membawa umbul-umbul memakai celana hitam kagok, berkain, baju lurik, destalan, seperti prajurit Daeng. Mereka membawa seruling, genderang dan mung-mung.
- prajurit putri membawa perisai, pedang, mengenakan baju berwarna-warni, celana panjang cinde dan berkain loreng.
- rombongan Demang dan kawan-kawan. Demang tersebut mengenakan kain, baju beskap hitam, memakai selempang kuning.
- jagabaya berkain, baju beskap hitam, memakai serempang merah.
- kaum atau rois, mengenakan kain berbaju surjan memakai serempang putih.
- pembawa tombak berbungkus cindhe beruntaikan bunga melati, mereka mengenakan celana hitam kagok, baju lurik, iket wulung, berselempang cindhe. Tiga pemudi mengenakan kain lurik ungu, baju hijau, memakai selempang merah, masing-masing membawa tiruan landak, gemak, merpati.
- barisan pembawa tombak, memakai celana merah, baju lurik merah, iket berwarna merah jingga.
- peserta bapak-bapak yang berkain berbaju surjan seragam warna merah, memakai sampur berwarna-warni.
- prajurit anak-anak, laki-laki perempuan membawa jemparing (panah).
- joli sesaji (jodhang) yang dibawa oleh petugas memakai seragam hitam kagok, baju merah iket biru.
- barisan selawatan
- joli bekakak Gunung Kliling.
- barisan yang membawa kembang mayang, cengkir, bendhe, tombak, dan luwuk semua dipayungi.
- barisan berkuda
- barisan pembawa panji-panji berwarna-warni yang mengenakan kain, baju surjan biru muda dan iket hitam.
- tiga pemudi membawa banyak dhalang, sawung galing, ardawalika
- tiga orang pemuda membawa padupaan dan bunga-bunga diikuti pembawa alat musik genderang, seruling dan mung-mung.
- prajurit Gamping Lor, diikuti prajurit, putri yang membawa panah, disusul lagi mereka yang membawa pedang panjang.
- jali sesaji (jodhang) yang dibawa oleh petugas memakai seragam celana hitam kagok, baju merah iket biru.
- jathilan dari patran
- prajurit Gamping Kidul, ada yang memakai topeng buron wana (landhak, kerbau, garuda) ada yang membawa tombak bertrisula, tombak biasa.
- reyog Gunung Kidul (seperti badhak merak)
- kemudian upacara tradisional itu berangkat dari balai desa menuju kearah bekas gung Ambarketawang, tempat penyembelihan pertama, kemudian ke tempat penyembelihan kedua yaitu di Gunung Kliling.
Nyembelih Pengantin Bekakak. Apabila arak-arakan telah tiba di Gunung Ambarketawang, maka joli pertama yang berisi sepasang pengantin bekakak, diusung ke arah mulut gua. Kemudian ulama (kaum) memberi syarat agar berhenti dan memanjat doa.
Selesai pembacaan doa, boneka ketan sepasang pengantin itu disembelih dan dipotong-potong dibagikan kepada para pengunjung demikian pula sesaji yang lain. Arak-arakan kemudia dilanjutkan menuju Gunung Kliling untuk mengadakan upacara penyembelihan pengantin bekakak yang kedua dan pembagian potongan bekakak yang kedua kepada para pengunjung.
Adapun jodhang yang berisi sajen selamatan dibagikan kepada petugas di tempat penyembelihan terakhir.
Sugengan Ageng. Sugengan Ageng yang dilaksanakan di Pesanggrahan Ambarketawang ini dipimpin oleh Ki Juru Permana pada hari tersebut. Pesanggrahan telah dihiasi janur (tarub) dan sekelilingnya diberi hiasan kain berwarna hijau dan kuning. Sesaji Sugengan Ageng yang dibawa dari patran, berujud jodhang, jali kembang mayang, kelapa gadhing (cengkir), air amerta, bokor tempat sibar-sibar, pusaka-pusaka, dan payung agung telah diatur dengan rapi di tempat masing-masing.
Upacara ini dilaksanakan di Gunung Kliling selesai. Pertama-tama pembakaran kemenyan, lalu dilanjutkan oleh Ki Juru Permana membuka upacara tadi dengan mengikrarkan adanya Sugengan Ageng tersebut, dilanjutkan pembacaan doa dalam bahasa Arab. Setelah selesai maka dilepaskannya sepasang burung merpati putih oleh Ki Juru permana. Pelepasan burung merpati ini disertai tepuk tangan para hadirin yang menyaksikannya. Kemudian dilakukan pembagian sesaji Sugengan Ageng yang berada dalam joli rahmat Allah kepada semua yang hadir, terutama makanan tawonan kegemaran Sultan Hamengku Buwana I. Dengan selesainya pembagian sesaji yang dilaksanakan, di pesanggrahan Ambarketawang.
***
Ceremony of Bekakak or called Saparan Bekakak is held at Gunung Gamping in the month of Sapar. The word Saparan derives from Sapar plus suffix-an. Sapar is identical with Arabian word syafar, the second month of hijriyah. Thus, Saparan ceremony is a ceremony held in month Sapar. Prince Mangkubumi initially gave order to hold the ceremony.
Saparan gamping is also called Saparan bekakak. Bekakak means slaughtering cattle or human. Bekakak of this ceremony is an imitation of a bridal couple sitting with leg crossed. It is made of sticky rice flour.
Saparan ceremony is indetail constituted by several rites such as:
- Midodareni bekakak
- Kirab or the parade
- Slaugtering the bekakak
- Sugengan Agung.
The ceremony is intended to honour Nyai and Kiai Wonosuto�s soul. Kiai Wonosuto was the first Sri Sultan Hamengku Buwono�s abdi Dalem Penangsong (giving shade by means of umbrella) wherever he might go. Kiai Wonosuto was unwilling to move from ambarketawang resort to the new court.� There, he and his family lived and, therefore, he was taken as the ancestors of Gamping people.
Saparan gamping must be held at 02.00 PM, every Friday, between 10th up to 20th Sapar. Bekakak is slaughtered at 04.00 PM.
The ceremony involves two rites, Saparan bekakak and Sugengan Ageng. Preparation for making bekakak and juruh (solution from plam sugar) takes 8 hours. Having made bekakak, people gejogan by hitting the pestle against the mortar in order to make music. The ryths generated are Kebogiro, Thong-thongsot, Dheng-thek, Wayangan, Kutut Manggung and so forth.
If the sticky rice has been completely ground. Bekakak, gendruwo, kembang mayang are made in certain place. Bekakak consists of two bridal couples in Yogya and Solo style.
The bridegroom in Solo style wears ahestar head cloth ornamented with furs. A red scarf, kalung sungsum,� hang on his neck. He wears bangun tolak clothe, put on blue belt and slepe. Kriss ornamented with a series of jasmine is put on his back and� he put on kelat bahu.
The bride with nice make up wears blue kemben. A red scarf and kalung sungsum hang on her neck. Her hair knot is ornamented with� menthul flowers. Subang and kelat bahu is also worn.
The bridegroom who is in Yogyakarta style wears red head clothe or red kuluk. Blue scarf and kalung sungsum hang on his neck. He puts on blue belt with slepe and sumping (ear ornament). The bride wears green kemben.� Blue scarf hang on ger neck.�
Women prepares the raw stuff for ceremony and men make the bekakak. It is a rule and will not be allowed to break.
The ritual offerings for this ceremony are divided into three groups. Two grups for jali-jali are� put beside� the bekakak. Rest of the groups is put on the jodhang� as a series of supplement of ceremonial offerings. The offering put beside the bekakak are, among others, sego wuduk put into little pengaron, boiled rice (nasi liwet) put into little kendhil with dhadhap leaf, turi leaf, boiled kara leaf, eggs and flat sauce, tumpeng urubing damar, kalak kencono, pecel pitik, jangan menir, urip-uripan lele, rindang antep, roasted chicken, lembaran chicken, plain coffee, sweet coffee, Dutch gin, cigarette, rujak degan, rujak deplok, arang-arang kemanis, padi, tebu, pedupan (incense), opium, nangka sabrang, gecok mentah, ulam mripat, ulam jeroan (innards), gereh mentah.
The offerings are put on the sudhi and glass. Sekul wajar (ambeng rice)� with side dishes, fried pumpkin sauce, bean stew, rempeyek, dried soy bean, bergedel, entho-entho, and so on, sekul galang lutut, tempe robyong put on� bamboo container, tumpeng megana, sanggan (a bunch of raja banana) betel vine, jenang-jenangan, rasulan (sego gurih), ingkung ayam, kolak, apem, randha kemu, carlberg bread, roasted sticky rice, emping, klepon (golong enten-enten), tukon pasar, sekar konyoh, kemenyan, jlupak baru, chicken, coconut, are taken into jodhang and then distributed into five ancak-ancaks. Two of them along with jali-jali are distributed to those making kembang mayang, bekakak, and grinding the sticky rice into flour. Pigeons are availably provided.
Midodareni Bekakak. Although bekakak is just imitation of bridal couple, midodareni ceremony is also needed. Midodareni derives from widodari, meaning Goddess. It means that the Goddes go down to gives their blessing to the bridal couple.
This ceremony last in the night, begins at eight o�clock. Two jail-jalis containing bekakak and a jodhang containing ritual offering and a couple of gendruwo and wewe, are paraded to ambar ketawang public hall. The sequence of the parade or carival is as follows:
- rows bringing pennant
- rows of guardian coming from middle gamping
- bridal joli and jodhang
- reyog coming from gamping kidul
- other followers.
Arriving at the public hall, jali and other oufits are given to the head of Ambar Ketawang Village. In the night of midodareni, people are awake the whole night in pendhopo (hall). Sometimes, they show shadow puppets, uyon-uyon and reyog.
In Ki Juru Permono�s house, kemusuk villagers hold tahlilah (extolling the God�s name) and is followed with tirakatan. In ambar ketawang resort, tirakatan is also held.
Parade of Bridal Bekakak. Parade of Bridal Bekakak is carnival bringing the bridal bekakak to the slaughtering venue. A series of ritual offerings of Sugengan Ageng are also paraded. The offerings of Sugengan Ageng are brought from Patran to the resort. Formerly, the offerings are also brought the the public hall.
In sequences, the Saparan carnival consists of:
- Reyog and jathilan
- Ritual offering of Sugengan Ageng
- Row of troops coming from middle gamping. They bring pennant, wear black trousers, long clothes, stripped shirt, destal. They seem to be Daeng Troop. They bring flute, drum and mung-mung.
- Female troops bringing shield, sword. They wear coloufoul custome, cindhe trousers and stripped clothes.
- Demang groups and their colleages. The demangs wear long clothes, black beskaps, and yellow scarves
- Jagabaya group. They wear long clothes, black beskaps, and red scarves
- Kaum or Rois group. They wears surjan shirts and white scarves.
- Those bringing spears wrapped with cindhe and� ornamented with jasmine. They are wear black middle trousers, stipped shirts, wulung head clothes; cross cindhe in front of their chests. Three girls put on stripped� purple clothes, green shirt;� cross red scarves in front of their chests. Each of them brings imitation of porcupine, quill and pigeons.
- Those bringing spears wear red trousers, stripped shirt, orange heath clothes
- Gentlement in long clothes and red surjan. They bring colourful scarves.
- Children troops. They bring archers.
- Offering in joli brought by persons in black, red shirt and blue head clothes.
- Slawatan rows
- Rows bringing kembang mayang, cengkir, bendhe, spears, and luwuk. All of them are under the shade of umbrella.
- Row of horses
- Row of persons bringing colourful pennant, in long clothes, light blue surjan and head clothes
- Three girls bringing banyak, dhalang, sawung, galling, ardawalika
- Three young men bringing burning incense and flowers. They are followed by players of drum, flute and mung-mung.
- Troops of Gamping Lor, followed by female troops armed with archers and troops with long sword as their arms.
- Offerings Jali brought by person in red shirt, black trousers, blue head clothes.
- Patran Jathilan
- Gamping Kidul troops. Some of them put on mask of buron wana (purcofine, buffalo, and� eagle). Some of them bring three pronged-spears, and spears.
- Reyog coming from Gunung Kidul
The parade comes out of the public hall in ambar ketawang to go to Gunung Ambarketawang, the first slaughtering venue (abbetoir), and then they lead to Gunung Kliling, the second slaughtering venue.
Nyembelih Pengantin Bekakak. If the carnival has been arrived at Gunung Gamping� Ambarketawang, the first joli containing bridal bekakak is brought to the cave. Kaum gives a sign that the joli shall stop and he leads the people to pray.
Completed the prayers, the bridal bekakak is slaughtered and cut into pieces and distributed to those attending the ceremony. other offerings are also given out to the audience. Having slaughtered the bridal bekakak, the carnival leads to Gunung Kliling to have another slaughtering rite.
The jodhang containing the offerings is given out to those in charge of holding the last slaughtering ceremony.
Sugengan Ageng. Sugengan Ageng performed in Ambarketawang Resort is directly led by Ki Juru Permana in the same day as Bekakak Ceremony.
The resort is ornamented with janur and green and yellow clothes here and there. The offerings brought from Patran are jodhang, Jali Kembang mayang, gadhing Coconut, Amerta water, bokor for sibar-sibar, heirlooms, and highness umbrella� set tidily.
This ceremony is performed after slaughtering bekaka in Gunung Kliling. First of all, a lump of incense is burnt. Ki Juru Permana opens the ceremony.� Ki Juru Permana then prays in Arabic. Then, a pair of pigeons is set free. Audience give their applause. Offerings of Sugengan Ageng are distributed to the audience, especially one called tawonan, favorite food of Sultan Hamengku Buwono I.

dariiiiiiiiii http://njowo.multiply.com/journal/item/1040/Upacara_bekakak_Saparan_di_Gunung_Gamping_

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar Anda, sumbangsih Blog saya...